Memahami Pentingnya Tidur Berkualitas

0
1305
Bachen Buelach, Zuerich, Schweiz, 15. August 2013 - Nicola Spirig, Triathletin und Olympia Siegerin im Wald.

Memahami Pentingnya Tidur Berkualitas
Saya butuh tidur untuk istirahat dan pemulihan agar latihan yang saya lakukan benar-benar terserap oleh tubuh – Usain Bolt

Kebanyakan dari Anda pasti memerhatikan pola latihan, dan segala perkembangannya. Itu wajar, karena Anda pasti ingin segera melihat hasilnya. Namun, apakah Anda memerhatikan juga pola tidur? Belum tentu, itu kata penelitian. Bahkan, masih dari penelitian yang sama, orang yang kesibukannya sangat menyita waktu bahkan beranggapan bahwa tidur adalah buang-buang waktu.

Tidak demikian dengan Usain Bolt, manusia tercepat di dunia. “Tidur sangat penting bagiku,” ujar Bolt, “Saya butuh tidur untuk istirahat dan pemulihan agar latihan yang saya lakukan benar-benar terserap oleh tubuh.”

Bukan hanya Bolt yang menyadari pentingnya tidur. LeBron James (bola basket) tidur malam selama 12 jam perhari. Serena Williams (tenis) biasanya sudah tidur pukul 7 malam. Lance Armstrong (balap sepeda) membutuhkan lebih dari enam jam tidur untuk meningkatkan mood, performa, dan konsentrasi. Roger Federer (tenis) tidur malam selama setidaknya 11 jam per hari.

Begitu penting tidur dan recovery (pemulihan) bagi Federer hingga ia memiliki dua buah rumah: satu untuk ia tinggali bersama keluarganya, satu lainnya untuk dirinya beserta para staf pelatih; untuk proses pemulihan setelah berlatih dan bertanding. Dengan kata lain, Federer menempatkan pemulihan di posisi yang sama penting dengan keluarga.

Tidur (dalam hal ini berarti istirahat) adalah bagian dari latihan itu sendiri. Selama tidur tubuh menjalani masa pemulihan, dan ini merupakan bagian penting dalam latihan. Baik sebagai bagian dari latihan dan/ race yang telah dilakukan atau sebagai bagian dari persiapan diri untuk latihan dan/ race berikutnya.

Proses pemulihan adalah proses peningkatan performa. Penelitian Stanford University menunjukkan para pemain college football yang tidur setidaknya 10 jam per hari dalam tujuh hingga delapan pekan mengalami peningkatan stamina dan kecepatan sprint. Di saat yang bersamaan, tingkat kelelahan menurun. Selama tidur, tubuh memperbaiki kerusakan otot yang terjadi dalam latihan atau pertandingan.

Tidur berkualitas tidak hanya memberi efek positif terhadap otot, tetapi juga pada otak. Proses penguatan memori yang terjadi ketika tidur disebut konsolidasi. Sederhananya seperti ini: ingatan-ingatan jangka pendek berubah menjadi ingatan jangka panjang lewat proses konsolidasi.

“Jika kita sedang mempelajari sesuatu, baik fisik atau mental, latihan hanya akan membawa kita ke titik tertentu,” ujar dr. Rapoport, associate professor di NYU Langone Medical Center. “Namun sesuatu yang membuat kita memahami latihan dengan lebih baik terjadi ketika kita tidur.”

Dalam jurnal SLEEP terdapat hasil penelitian yang menyebutkan bahwa kurang tidur mempengaruhi kecepatan pengambilan keputusan. Ini kabar buruk bagi para pemain sepakbola karena, menurut Andrés Iniesta, yang membedakan pemain hebat dengan pemain biasa saja adalah kecepatan pengambilan keputusan. Dennis Bergkamp menggambarkannya sedikit berbeda: satu detik-nya pemain hebat, kata Bergkamp, berlangsung lebih lama dari satu detiknya pemain biasa. Hasil beberapa penelitian berbeda menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan tingkat cortisol, hormon pemicu stress, dan memperlambat proses pemulihan.

Pentingnya tidur bukan hal baru bagi para atlet. Pentingnya pelatih tidur adalah lain hal. Nama terdepan dalam bisnis tidur atlet adalah Nick Littlehales, orang nomor satu dalam urusan tidur atlet dunia. Bagi Littlehales bukan hanya lamanya waktu tidur yang penting. Lingkungan tempat seseorang tidur juga memainkan peran yang tidak kalah penting. Salah satu bagian dari pekerjaan Littlehales adalah memastikan atlet yang bersangkutan tidur di hotel yang tepat, di lantai yang tepat, dengan kondisi udara dan suhu yang tepat, serta tempat tidur dan pencahayaan yang tepat.

Littlehales menciptakan sleep kits untuk para pesepeda Tour de France. Ia menempatkan bedding topper, sebuah lapisan busa tipis di atas kasur yang tersedia di hotel tempat para pesepeda menginap. Jika kasur yang tersedia tidak memenuhi kriteria, Littlehales membawa sendiri kasurnya atau menempatkan bedding topper di atas lantai. Walau tipis, bedding topper ini mampu menahan beban hingga 150 kg dan atlet yang tidur di atasnya tidak akan merasakan kerasnya lantai. Littlehales juga menyediakan tujuh linen putih untuk tiap pesepeda yang harus dicuci dan dikeringkan setiap kali selesai dipakai agar para pemain dapat merasakan sensasi menenangkan ketika tidur. Pada setiap air conditioner, Littlehales memasang penyaring untuk menciptakan kondisi udara yang tepat. Pencahayaan juga menjadi perhatian Littlehales.

Hanya karena Anda menjalani aktivitas fisik yang tidak lebih berat ketimbang para atlet kelas satu, bukan berarti tidur tidak penting bagi Anda. Tidur penting bagi semua orang. Kalaupun ada perbedaan, itu hanya lamanya waktu tidur yang dibutuhkan saja. Atlet membutuhkan belasan jam tidur karena tubuh mereka membutuhkan lebih banyak waktu pemulihan. Lagipula, lamanya waktu tidur yang dibutuhkan setiap orang berbeda-beda. Tidak perlu Anda tidur selama delapan jam jika Anda memang tidak membutuhkannya. Littlehales pun tidak percaya kepada delapan jam tidur.

Littlehales berkata bahwa setiap orang memiliki waktu pemulihan mental dan fisik yang berbeda namun bahkan atlet kelas satu pun bisa mendapat hasil optimal dari lima kali siklus tidur 90 menit per hari.

Sumber: running.competitor.com
Visual: onrunning.com

SHARE

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.