Matias Ibo: Pelari Rawan Cedera Otot

0
1106

Fisioterapis Timnas Indonesia, Matias Ibo dalam dalam workshop: “Maintaining Consistent Performance ” menceritakan cedera yang paling banyak dialami pelari adalah cedera otot.  Matias menjelaskan, cedera tersebut bisa sembuh dalam sembilan minggu jika diberikan perawatan yang benar.

“Masalah yang dialami pelari di Indoneisa itu biasanya cedera otot. Biasanya, di betis atau di paha,” kata Matias di depan sejumlah komunitas lari yang hadir dalam workshop itu.

“Faktanya, itu sebuah kesalahan, karena kalau berlari, jangankan jalan, otot di kaki pasti sakit. Menyembuhkan cedera otot betis dan paha itu berbeda. Ada tahapannya,” dia menambahkan.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, penyebab cedera pelari di Indonesia tidak hanya otot saja, tapi juga kondisi jalanan yang tidak rata dan banyak lubangnya.

Dalam acara yang menjadi bagian dari Compressport Heritage Run 2016 itu, Matias merasa miris dengan hal tersebut. Namun, menurut dia prinsip dasar dari sebuah penanganan cedera adalah: kita tahu apa yang kita rawat. Maka dari itu, kunci keberhasilan penyembuhan cedera adalah diagnosis yang benar dan tepat. “Terdengarnya mudah, memang. Tapi dalam prakteknya sangat membutuhkan ketelitian dan kemampuan analisa,” ujar Matias.

“Misalnya begini,” ujar Matias menyontohkan, “Saat menangani pasien, seorang fisioterapis harus dapat membedakan apakah cedera adalah sebuah sprain lutut, strain otot, sekadar bengkak dari sebuah jenis cedera (pathology), “otot ligamen anterior cruciate ligament yang robek” atau “otot yang sobek gradasi 2”, atau hanya sekedar “pendarahan di dalam lutut.”

Untuk mengantisipasi hal itu, menurut Matias ada empat hal penting yang perlu diperhatikan.

  1. Ketahanan (endurance)

Ketahanan merupakan hal yang penting dalam berlari, terutama untuk lari jarak jauh. Matias mengatakan, ketahanan meliputi ketahanan murni (pure endurance) yang merupakan kemampuan untuk berlari selama mungkin tanpa lelah. “Pelari dengan endurance yang baik dapat menjaga tempo berlari yang sama selama dua hingga tiga jam, tanpa adanya penambahan atau pengurangan kecepatan,” ujarnya. Selain itu, ketahanan juga mencakup kebugaran total (total fitness) yang berhubungan dengan teknik berlari serta efisiensi yang berarti kemampuan untuk mengoptimalkan kerja otot yang digunakan untuk belari.

  1. Kekuatan (power)

Matias mengatakan, kekuatan otot sangat dibutuhkan dalam berlari. Sebab, berlari merupakan loncatan-loncatan yang dilakukan secara berkesinambungan, sementara untuk melakukan loncatan, tubuh memerlukan kekuatan otot. “Berlari itu melatih otot untuk kuat, bukan untuk menambah massa otot. Semakin kuat otot, semakin baik kemampuan seseorang untuk berlari,” ujarnya.

  1. Daya (strength)

Menurut Matias, daya dalam berlari berhubungan dengan intensitas berlari, kapan perlu cepat, kapan perlu kuat. Untuk melatih daya, kata dia, pelari perlu latihan di medan bergelombang, ada tanjakan maupun turunan.

  1. Pemulihan (recovery)

Lari merupakan olahraga yang berdampak tinggi sehingga tubuh membutuhkan waktu pemulihan setelah melakukannya. Matiasmengatakan, setelah berlari 20 kilometer, wajar jika tubuh merasa pegal-pegal. Ini karena adanya serat-serat otot mikro yang robek sehingga butuh pemulihan. “Pegal-pegal berbeda dengan cedera. Meskipun sama-sama butuh waktu untuk memulihkannya, pemulihan pegal tidak membutuhkan waktu lama,” ujarnya.

Visual: @CompressportRunIndo

SHARE

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.