Belajar Dari Pelari Kenya

0
1567

Belajar Dari Pelari Kenya
Mereka berlari dengan elegan dan tenang, namun meninggalkan lawannya

Anda pernah mengikuti Jakarta Marathon, Bali Marathon, atau malah World Major Marathon? Siapa juaranya? Anda pasti dengan mudah menebaknya dari awal. Ya, pelari asal Kenya. Mereka memang langganan podium. Mereka berlari dengan elegan, tenang, namun dengan mudah meninggalkan semua lawan.

Kami yakin banyak pertanyaan muncul di benak Anda. Mulai dari bagaimana cara mereka berlatih, hingga apakah faktor gen yang memengaruhi besar. Baca terus, artikel ini Anda akan menemukan jawabannya.

Jon Entine, penulis Amerika lewat bukunya Taboo: Why Black Athletes Dominate Sports and Why We’re Afraid to Talk About It, memberikan statistik yang cukup mencengangkan. Para pelari jarak menengah dan jauh dari Kenya telah mendominasi lari jarak 800 meter dan lebih sejak 1968: 53 medali dikumpulkan, 17 di antaranya emas, sejak 1968. Sebuah prestasi yang mengagumkan, apalagi mengingat Kenya memboikot Olimpiade 1976 dan 1980. Dalam arena World Cross Country Championship dari tahun 1986 – 2000, para atlet Kenya meraih emas dua belas kali dari empat belas kali turnamen.

Jon Entine juga mengamati superioritas pelari jarak pendek kulit hitam hanya sebatas dari mereka yang nenek moyangnya berasal dari wilayah pantai Afrika Barat (dan beremigrasi ke Amerika). Pelari dari Afrika Timur memiliki kelebihan di lari jarak panjang –dengan pelari dari Kenya sebagai contoh nyata.

Untuk mempertahankan teori bahwa bakat bukan diturunkan dari gen, Jon mengajak untuk memecahkan misteri ini. “Misteri ini lebih sulit dipecahkan dibanding di bidang olah raga lain seperti catur, tenis, golf, atau di cabang musik,” kata Jon. Menurutnya, dalam catur Anda membutuhkan latihan bertahun-tahun untuk membantu para pemain mengingat pola-pola –dan prinsip, yang diperlukan untuk menjadi ahli dunia. “Grandmaster catur dunia terbukti mampu menghapalkan sekitar 100.000 pola yang bisa diakses dengan cepat dari sistem ingatan mereka,” ujar Jon, dan itu yang membuat mereka mampu menemukan langkah terbaik dengan cepat dalam hampir setiap posisi papan yang mereka hadapi.

Di sini,  Anda pasti setuju bahwa latihan intensif selama bertahun-tahun bisa meningkatkan keahlian, dan bukan karena faktor genetik. Namun, pada olahraga lari, sebaliknya. “Lari adalah kegiatan yang sederhana. Anda hanya perlu berlari sesuai lintasan yang sudah ditentukan. Anda memang perlu mengetahui posisi pelari lain, tetapi posisi mereka tidak terlalu memengaruhi strategi Anda,” kata Jon. Namun, ia menegaskan bahwa di dalam lari tidak perduli di mana posisi Anda sekarang, tujuan Anda tetap sama: tiba di tujuan secepat mungkin, lebih cepat lebih baik. Dan untuk mencapai hal tersebut Anda tidak perlu berpikir keras atau mengenali ribuan pola. “Anda hanya membutuhkan hanyalah fisik yang kuat dan anatomi yang sesuai dengan olah raga Anda,” kata Jon.

Tidak ada yang lebih sederhana dari itu, bukan? Untuk bidang olah raga yang komponen utamanya adalah fisik, kita jelas tidak bisa menolak peranan gen.

Namun, secara kasat mata bangsa Asia Timur, Tenggara, dan Selatan yang memiliki postur tubuh rendah tentu sulit bersaing di bidang ini dengan para pelari Kenya yang diberkati tubuh jangkung. Di Afrika sendiri juga ada bangsa Pigmi yang bertubuh pendek. Berlatih sekeras apa pun, sulit membayangkan ada pelari dari bangsa Pigmi yang bisa bersaing di arena internasional. Mereka yang bertubuh lebih mungil juga memiliki keunggulan di olah raga seperti senam atau berkuda.

Tetapi masalah tetap tidak sesederhana itu. Apakah semuanya hanya semata-mata karena pengaruh gen? Bukankah para pelari kulit putih juga banyak yang berbadan jangkung? Mengapa mereka tidak bisa bersaing saat ini di cabang olah raga lari, meski dulunya pernah mendominasi di cabang ini?

Afrika Timur juga terdiri dari banyak negara. Mengapa hanya beberapa negara, terutama Kenya yang berjaya? Kita juga melihat cabang olah raga lain di mana fisik memegang peranan penting seperti renang. Namun, mengapa tidak ada atlet Afrika yang berjaya di olah raga renang, kalau tubuh jangkung dan stamina yang kuat memberikan kelebihan? Jon mencoba menyelidiki fenomena tersebut mencoba melihat lebih jauh pola distribusi para pelari Kenya.

Jon menemukan para pelari Kenya tidak terdistribusi merata di seluruh negari tersebut. “90% pelari Kenya datang dari sebuah daerah yang disebut Perbukitan Nandi,” kata Jon. Sebuah distrik kecil, Nandi, dengan hanya 1.8% penduduk Kenya, menghasilkan lebih dari setengah atlet lari Kenya kelas dunia.

Fakta tersebut membuat fenemona dominasi pelari jarak menengah Afrika bukanlah dominasi Afrika, atau Kenya, tetapi distrik Nandi. Apa yang menarik yang sedang terjadi di sana? Apakah Tuhan, karena suatu alasan, memberikan gen spesial ke penduduk di distrik tersebut? Penjelasan genetik tersebut cukup masuk di akal. Mutasi genetik umumnya bisa bertahan di area yang terisolasi.

Jon menjelaskan bahwa wilayah yang terisolasi umumnya memiliki karekteristik khusus yang mempercepat proses seleksi alamiah dan seleksi seksual. Isolasi lebih jauh memastikan variasi genetika yang terjadi tidak tercampur dengan gen dari populasi lain. Nandi adalah wilayah yang cukup terisolasi. Namun teori tersebut tidak bisa bertahan terhadap bukti-bukti ilmiah.

Yannis Pitsiladis, seorang ilmuwan Yunani, yang telah bertahun-tahun menganalisis DNA para pelari Afrika, tidak menemukan perbedaan nyata antara DNA penduduk Nandi dengan populasi lain. Kebangkitan negara-negara Afrika lain seperti Maroko, Aljazair, dan Ethiopia juga mulai mengikis dominasi para pelari dari Nandi, sesuatu yang tidak akan terjadi bila DNA adalah faktor penentunya.

Yannis mengemukakan hipotesis baru. Menurut pengamatannya, kebanyakan pelari jarak menengah Afrika berasal dari daerah pegunungan tinggi. Latihan di daerah tinggi telah terbukti mampu meningkatkan daya tahan dan produksi sel darah merah yang mengangkut oksigen. Hipotesis tersebut diperkuat dengan apa yang terjadi di Ethiopia. “38% dari pelari maraton terbaik Ethiopia berasal dari daerah Arsi, daerah dengan 5% populasi Ethiopia,” kata Yannis. Arsi adalah salah satu wilayah tertinggi di Afrika Timur.

Hipotesis Pitsiladis tersebut juga dikonfirmasi oleh Prof. Bengt Saltin dan rekan-rekannya. Mereka menemukan anak-anak Afrika Timur yang berlari ke sekolah setiap hari memiliki tingkat pengambilan oksigen 30% lebih tinggi dari mereka yang tidak tinggal di ketinggian yang sama. Tinggal di dataran tinggi tentu tidak serta merta menghasilkan pelari kelas dunia jarak menengah. Nepal, Peru, dan Swiss juga terletak di dataran tinggi, tetapi Anda jarang mendengar prestasi mereka di dunia atletik.

Faktor penting lainnya yang membuat Kenya mampu menghasilkan banyak pelari adalah kemiskinan dan kurangnya infrastruktur jalan yang bagus. Para penduduk miskin yang tinggal di daerah dengan infrastruktur jalan yang jelek harus berlari setiap hari. Sejak kecil para penduduk harus berlari belasan, atau terkadang puluhan kilometer, untuk bersekolah atau untuk keperluan lain. Anggap saja mereka berlari rata-rata satu jam setiap hari mulai umur 5 tahun. Pada ulang tahun mereka yang ke-15, mereka sudah berlari lebih dari 3.500 jam. Itu adalah jarak rata-rata. Sebagian kecil dari populasi yang menempuh jarak rata-rata lebih jauh setiap hari, mungkin sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 jam berlari.

Dengan adanya ratusan- atau bahkan ribuan, orang yang sudah berlari 5.000 jam di dataran tinggi sebelum berumur 15 tahun, Anda akan mendapatkan jumlah calon pelari kelas dunia yang cukup banyak. Kumpulkan bakat-bakat sebanyak itu dalam kompetisi nasional, dan Anda pasti akan menemukan beberapa calon pelari dunia setiap tahun. Tambahkan hal tersebut dengan jaminan finansial bila berhasil di dunia internasional, sukses hanya tinggal menghitung waktu.

Sumber: run-down.com
Visual: npr.org

SHARE

LEAVE A REPLY

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.